Peranan Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Masyarakat
Kita menyadari bahwa SDM kita masih rendah, dan tentunya kita masih punya satu sikap yakni optimis untuk dapat mengangkat SDM tersebut. Salah satu pilar yang tidak mungkin terabaikan adalah melalui pendidikan non formal atau lebih dikenal dengan pendidikan luar sekolah ( PLS ).
Rendahnya kualitas SDM kita tidak terlepas dari rendahnya tingkat pendidikan masyarakat, terutama pada usia sekolah. Rendahnya kualitas SDM tersebut disebabkan oleh beberapa faktor misalnya : ketidakmampuan anak usia sekolah untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi sebagai akibat dari kemiskinan yang melilit kehidupan keluarga atau bisa saja disebabkan oleh angka putus sekolah.
Selaras dengan UU No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang secara tegas dan lugas menyebutkan bahwa pendidikan non formal akan terus ditumbuhkembangkan dalam kerangka mewujudkan pendidikan berbasis masyarakat, dan pemerintah ikut bertanggungjawab dalam kelangsungan pendidikan non formal.
Rencana strategis dalam mendukung penyelenggaraan PLS baik di tingkat propinsi maupun tingkat kabuapaten sebagai berikut :
- Perluasan pemerataan dan jangkauan pendidikan anak usia dini
- Peningkatan pemerataan, jangkauan dan kualitas pelayanan Kejar Paket A dan Kejar Paket B
- Penuntasan buta aksara
- Perluasan, pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan berkelanjutan melalui program pembinaan kursus, kelompok belajar usaha, magang, beasiswa
- Memperkuat dan memandirikan PKBM yang telah melembaga di berbagai daerah.
Dalam kaitannya dengan upaya peningkatan kualitas dan relevansi pendidikan, mala program PLS lebih cenderung berorientasi pada kebutuhan pasar, tanpa mengesampingkan aspek akademis.
Bagaimanakah Keterkaitan Teknologi Pendidikan dalam Pendidikan Luar Sekolah ?
Keterkaitan antara teknologi dengan pendidikan luar sekolah seperti yang dikemukakan oleh Sujarwo dalam Mozaik Teknologi Pendidikan adalah sebagai berikut :
NO
|
Komponen Pendidikan
|
Teknologi Pendidikan
|
Pendidikan Luar Sekolah
|
| 01 | Persepsi terhadap sasaran didik | 1.Ada dua kelompok :
a. individu yang memiliki waktu penuh untuk belajar.
b. Individu yang yang memiliki waktu belajar terbatas.
2. Individu yang :
a. Mandiri dan potensial
b. Mampu dan lebih efektif dalam belajar mandiri
c. Untuk yang berbeda satu dengan lainnya.
| 1.Individu yang :
a. Sebagian besar waktunya untuk bekerja
b. Mampu mengatur diri
c. Mampu dan lebih senang belajar mandiri
d. Tidak suka diintervensi dalam menentukan waktu belajarnya.
|
| 02 | Metode Pembelajaran yang tepat | Menggunakan metode pembelajaran konvensional antara lain : belajar mandiri, belajar kelompok/diskusi, belajar jarak jauh, studi kasus | Karena kesibukannya, maka belajar mandiri, kelompok diskusi, jarak jauh dan studi kasus lebih tepat digunakan. |
| 03 | Sumber belajar | 1.Berbentuk media pendidikan seperti : e-learning, media AV, modul, TV, radio dan komputer interaktif
2.Disusun berdasarkan karakteristik peserta didik
| Mengutamakan media pendidikan seperti : e-learning, media AV, modul, TV, radio dan komputer aktif. |
| 04 | Tenaga Pendidikan | Guru atau tutor yang berfungsi/berperan sebagai : pembimbing, pembina motivator dan fasilitator | Tutor dan instruktur yang berfungsi/berperan sebagai : pembimbing, pembina, motivator dan fasilitator |
| 05 | Tempat Belajar | Sangat fleksibel: di sekolah atau di luar sekolah | Sangat fleksibel : bisa dalam setting sekolah, bisa di mana saja |
| 06 | Waktu Belajar | Sangat fleksibel : karena menekankan pada belajar mandiri dengan media pendidikan | Sangat fleksibel : sesuai dengan kesepakatan dan kesiapan peserta belajar |
| 07 | Lama Belajar | Menganut teori mastery learning (belajar tuntas) tidak terpaku dengan waktu yang kaku | Menganut teori mastery learning tidak terpaku pada batas waktu yang kaku. |
| 08 | Penilaian hasil belajar | 1.Keterlibatan peserta belajar dalam penilaian sangat besar
2.Menekankan pada penilaian oleh peserta belajar mandiri (self assesment)
| 1.Keterlibatan peserta belajar dalam penilaian sangat besar.
2.Menekankan pada penilaian oleh pesertaa belajar sendiri (self assesment)
|
Berbagai macam kendala dalam pendidikan yang terjadi di Indonesia dewasa ini, dapat diselesaikan dengan pendekatan teknologi, yaitu teknologi pendidikan. Teknologi pendidikan berusaha memecahkan dan atau memfasilitasi pemecahan masalah belajar pada manusia sepanjang hayat, di mana saja, dengan cara apa saja, dan oleh siapa saja.
Di bawah ini akan dikemukakan beberpa alasan diterapkannya teknologi pendidikan termasuk di dalamnya dalam Pendidikan Luar Sekolah :
- Adanya orang-orang belajar yang belum cukup memperoleh perhatian tentang kebutuhannya, kondisinya, dan tujuannya
- Adanya si belajar yang tidak cukup memperoleh pendidikan dari sumber-sumber sediakala
- Adanya sumber-sumber baru berupa: orang, pesan, bahan, alat, cara-cara tertentu dalam memanfaatkannya
- Adanya kegiatan yang bersistem dalam mengembangkan sumber-sumber belajar yang bertolak dari landasan teori tertentu dan hasil penelitian.
- Adanya pengelolaan atas kegiatan belajar yang memanfaatkan berbagai sumber, kegiatan menghasilkan dan atau memilih sumber belajar, serta orang dan lembaga yang terlibat langsung dalam kegiatan-kegiatan tersebut. (Miarso, 2007 : 599 ).
Komentar
Posting Komentar